Inggris menuju resesi, Bank of England mungkin akan melanjutkan pemangkasan suku bunga
Ekonomi Inggris semakin mendekati resesi sehingga mungkin memaksa Bank of England untuk menerapkan pelonggaran moneter yang jauh lebih agresif.
Para analis mencatat bahwa indikator pertumbuhan ekonomi utama di Inggris masih lemah. Selain itu, data aktivitas dan pasar tenaga kerja semakin memperlihatkan kondisi resesi. Para ahli mengatakan ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang substansial, meskipun sejauh ini hanya terjadi pemutusah hubungan kerja (PHK) level moderat.
Para analis menyoroti perlambatan pertumbuhan pada laba perusahaan yang meningkatkan PHK lebih lanjut. Pasar tenaga kerja Inggris memburuk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dan dalam banyak hal telah terlihat menurun. Para ahli memperingatkan bahwa tidak adanya perbaikan dalam data makroekonomi dan pasar tenaga kerja pada akhirnya dapat menyeret ekonomi ke dalam resesi.
Pada saat yang sama, tekanan inflasi mereda. Pertumbuhan upah telah melambat dan dinamika harga jasa kembali ke jalur yang benar, memperkuat ekspektasi bahwa inflasi inti dapat kembali ke target 2% Bank of England tahun ini.
Bagi investor, analis menganggap pasar saham Inggris cukup menarik meskipun ekonomi domestik melemah. Saham dapat didukung oleh biaya pinjaman yang lebih rendah, pound sterling yang lebih lemah dan pangsa pendapatan internasional yang tinggi untuk banyak perusahaan. Dalam jangka pendek tiga hingga enam bulan, analis lebih menyukai saham Inggris daripada saham di zona euro.
Mereka menilai pasar Inggris masih diperdagangkan dengan harga diskon dan tidak terlihat overbought. Sumber dukungan tambahan dapat berasal dari sektor energi: analis mencatat bahwa gejolak politik di Iran dapat memicu guncangan pasokan besar di pasar minyak.
Mengingat bobot signifikan perusahaan minyak dan gas dalam indeks saham Inggris, pasar Inggris secara historis telah mengungguli zona euro selama periode kenaikan harga minyak.